23 September 2008

Saya dengan “Seleweng atau Selingkuh”

Postingan saya kali ini terinspirasi dari salah satu bloger yang memuat tetang postingannya yang berjudul “Benarkah pria memang berbakat menyeleweng?” Pada postingan tersebut pun juga hanya memaparkan hasil penelitian yang katanya menjumpai sebuah berita di suratkabar: Sebuah studi yang dilakukan di Swedia menemukan bukti bahwa pria ternyata memang berbakat menyeleweng (melanggar aturan manusia: Helmi).Seleweng atau selingkuh di sini yang dimaksud adalah lebih dikhususkan untuk pasangan suami istri yang selingkuh atau menyeleweng. Selingkuh bukan hal yang tidak mungkin maka dari itu diadakanlah perbendaharaan kata seleweng, ketika ada seseorang tidak menyeleweng, maka itu adalah salah satu corak dari setiap karakter seseorang, saya tidak sepakat kalau pria memang berbakat menyeleweng. Gimana bisa? Mempertaruhkan nyawa sekalipun saya tidak akan pernah seleweng, itulah prinsip saya tidak dapat dijual ataupun dibeli, seleweng atau tidak seleweng itu tergantung dari prinsip seseorang baik laki-laki maupun perempuan. Anda tahu apa itu seleweng? apa penyebab seleweng? mengapa harus ada seleweng? dan bagaimana hukumnya seleweng ditinjau dari berbagai aspek hukum? apakah ada istilah seleweng berlaku pada binatang? bagaimana jika kata seleweng digoogling (mencari artikel via internet)? Kalau ber-poligami, pria punya bawaan, itu saya sepakat tapi belum tentu saya punya keinginan untuk berpoligami karena poligami punya aturan yang terkait dengan kompilasi hukum islam, nah… kalau seleweng atau selingkuh apa ada aturannya, kalaupun punya aturan itu hanya sekedar pelarangan saja. Bukankah seseuatu yang terlarang hanya karena dikhawatirkan dampak negatifnyalah yang ditakutkan (mudharat), poligami pun akan terlarang jika mempunyai unsur mudharat.Seleweng atau selingkuh, dalam agama saya adalah perbuatan yang terlarang, dan masih banyak kok perbuatan pelanggaran-pelanggaran dalam agama, selingkuh atau menyeleweng hanya sebagian kecil pelanggaran, meninggalkan shalat lima waktu, bahkan kalau seandainya kita lebih konsisten tidak menundukkan pandangan pun pada sesuatu momen untuk menundukkan pandangan adalah terlarang terhadap memandang lawan jenis, maksudnya dalam islam ada aturan memandang lawan jenis, segitu extrimkah?

9 February 2008

Saya dengan "Hakh"

Hakh... itu desahan nafasku yang terasa begitu...? entah apa yang sedang saya pikirkan sekarang, semuanya campur aduk, pekerjaan tetap? belum ada, kuliah? belum selesai-selesai, ditambah lagi dengan tuntutan fitrahku sebagai laki-laki yang telah berumur dewasa yang tentunya ada keigninan untuk menikah. Bersyukurlah, saya masih dikarunia keiinginan tersebut oleh Allah, bukankah menikah adalah impinan semua orang? Bukankah menikah separuh dari agama? Bukankah menikah lebih membuat hati menjadi sakina =“tenang”? siapa sih yang tidak ingin menerima kemaslahatan pernikahan? kok ngebahasnya masalah itu yah?.. ah.. kita abaikan saja dulu!

Dengan merujuk pada kalender masehi, maka umurku sudah genap 28 tahun, umurku bertambah namun pada hakikatnya berkurang, tidak terasa lamanya saya telah diberi kesempatan selama ini untuk menghirup udara sebebas mungkin oleh Allah tanpa memberi imbalan yang berarti kepada si Maha pemberi. Ya Allah…ampunilah segala dosa-dosaku, jadikanlah aku sebagai hamba yang pandai mensyukuri nikmat yang engkau beri padaku nan tiada tara, Dikau terlau peduli kepadaku, namun tidak banyak aku peduli kepadaMu, dalam hatiku saya menangis memohon ridhaMu dan…, ya Allah.. saya ingin mengungkapkan segala pujian kedapa Engkau dan hanya itulah yang dapat kupersembahkan untukMu, semoga di masa yang akan datang adalah masa depan yang mendapatkan limpahan berkah dan rahmatMu. Semoga Engaku selalu melindungiku dari kejahatan makhlukMu. Ya Allah... semoga Dikau selalu mengingatkan aku untuk selalu menengadah ke bawah dalam urusan duniawi dengan menyadari bahwa ternyata engkau masih memberikan sesuatu yang lebih untukku dari pada hamba-hambaMu yang lain. Ya Allah... ingatkanlah aku untuk selalu melihat ke atas dalam hal ibadah dengan menyadari hanya sebahagian kecil sajalah hambaMu yang peduli akan akhirat dan lebih mementingkan dunianya. Ya Allah masukkanlah aku ke dalam jannah-Mu yang telah engkau iming-imingkan kepadaku. Wafatkanlah aku dalam keadaan husnul khatimah. Amin ya Allah...