
Kemarin saya menghadiri acara muktamar organisasi keagamaan (islam) yang basisnya di sulawesi selatan (tepatnya asrama haji Sudiang Makassar) tapi bukan dalam rangka memenuhi undangan melainkan menjenguk Ibu (kandung) sebagai tamu/peserta/undangan muktamar tersebut, acaranya pun ditutup pada malam itu juga dengan meriah dan pemilihan ketua baru. Saya hanya menunggu Ibu di luar gedung muktamar. Setelah acara usai dan mengantarkan ibu ke bus rombongan untuk pulang ke daerah masing-masing, saya kembali ke sekitar gedung acara, ternyata tidak disangka di sana banyak teman-teman sekolah SMP dulu yang baru ketemu dengan keberhasilan akan berbagai macam profesi yang disandangnya antara lain seperti guru PNS (wah sama dong dulu dengan saya, tapi hanya honor).
Karena capek berdiri cerita bersama-sama tentang pengalaman di waktu masih SMP sekitar satu jam-an, akhirnya kami pun berpencar untuk mencari tempat duduk masing-masing, kebetulan di dekat kami ada semacam aula yang dilengkapi kantin dan ruangan terbuka berlantai dua tanpa dinding di lantai dasarnya dengan tatanan kursi dan meja berkelompok-kelompok plus layar lebar LCD yang kebetulan tidak difungsikan, kebayang kan? Kalau tidak, kebayang saja deh!
Saya mengambil posisi sudut utara barat, bertiga dengan teman dalam satu meja, teman yang lain di meja yang lain juga tentunya, ada 8 orang, 7 orang dan di dekat meja saya ada 6 orang. Merasa perut keroncongan, mulai dari petang hingga tengah malam dengan jarum jam menunjukkan pukul 12.30 dini hari belum pernah makan, saya pun begegas untuk memesan makanan dengan menu apa adanya 3 mangkuk mie instan (untuk teman juga) campur bakso.
Setelah selesai makan, saya memperhatikan meja yang di dekat/sebelah tadi (6 orang), ada seorang bapak-bapak dan sedikit rambut beruban bercengkramah seolah-olah seorang narasumber yang mempresentasekan bahannya pada peserta seminar dikelilingi dengan orang-orang di meja tersebut disretai anggukan kepala dan mengiyakannya sehingga tampaklah di antara mereka seakan-akan paham akan yang di bicarakannya sembari sesekali mengacungkan pertanyaan kepada bapak (sipembicara) tersebut. Saya tidak tahu apa yang dibicarakan, tapi kelihatannya tampak serius. Wah.. wah.. wah…!
Siapa sih yang bapak itu? (Tanya saya sama teman di samping), oh… kalau bapak itu adalah caleg sekaligus masih menjabat sebagai anggota dewan pusat DPR RI, dari partai... (eks-eks), kebetulan bapak tersebut orang yang berasal dari daerah (kelahiran) yang sama dengan saya. Sambil berbicara, bapak tersebut mengekspresikan gaya bahsanya dengan isyarat tangan, namun kelihatannya ada yang aneh, yah… kukunya kepanjangan (feminin “kewanitaan” amat) kayak wanita saja. Wanita yang memanjangkan kuku mungkin wajar-wajar saja tapi ini adalah seorang laki-laki, anggota dewan lagi, (anggota dewan juga manusia?). Wanita yang memanjangkan kuku adalah pencerminan dari tabiatnya yang selalu ingin bersolek namun pada dasarnya saya tidak suka wanita yang memanjangkan kukunya, sekalipun itu adalah saudara wanita saya. Dulu, waktu masih berprofesi sebagai guru, jika melihat siswa yang memanjangkan kukunya, hanya dengan teguran yang tidak memaksanlah (hikmah) kepada sang siswa untuk memotong kukunya, biasanya saya mendekati secara personal, kemudian mengajaknya untuk berdialog dan memberikan beberapa pertanyaan logika bahwa apakah memanjangkan kuku itu baik menurut agama islam? dan tentu jawabannya adalah tidak baik menurut islam, maka saya menyarankan untuk memotong kukunya dengan keikhlasan karena Allah tanpa tekanan dari saya dan memberikan ungkapan yang berkesan kepada nya (siswa) bahwa saya ingin melihat tangannya indah tanpa kuku yang panjang karena itulah yang syariatkan oleh agama bukan? Allah itu indah dan suka keindahan? Berlindunglah kepadanya dari sifat ujub akan memperlihatkan kuku yang panjang yang sesungguhnya mungkin indah menurut anda namun bagi Allah sudah pasti tidak indah!
1 comment:
hehehe....mungkin bapaknya pengen keliatan anggun, makanya memanjangkan kuku ^_^ kan jarang2 tu bapak2 kukunya panjang hehehe....makasih infonya ya :D
Membuat Website
Post a Comment